Sri WahyuniVIEW PROFILE →
Pemodal Baru: Bagaimana Modal Ventura Korporasi dan BUMN Menjadi Penentu Arah Startup Indonesia
Di tengah musim dingin pendanaan, pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa banyak modal, melainkan siapa yang kini memegang kendali. Modal ventura korporasi dan BUMN telah naik kelas menjadi penentu arah ekosistem startup Indonesia.
Sebagai orang yang mengikuti dunia startup dari dekat, saya melihat pergeseran yang menarik di tahun 2026. Selama ini pembicaraan selalu berkutat pada seberapa besar dana yang masuk. Namun kini muncul pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu siapa sebenarnya yang memegang kendali atas modal itu. Jawabannya perlahan berubah, dan perubahan ini layak kita cermati dengan kepala dingin.
Musim dingin yang menyeleksi
Angkanya berbicara jelas. Sepanjang 2025, total pendanaan startup Indonesia hanya sekitar 355,7 juta dolar dari 91 kesepakatan, jauh dari puncak tahun 2021 yang mencapai 6,9 miliar dolar. Jumlah putaran pendanaan pun anjlok drastis, dari sekitar 385 menjadi hanya 69. Ini bukan sekadar pendinginan, melainkan seleksi alam yang memaksa setiap pemain membuktikan bahwa bisnisnya benar-benar layak.
BUMN dan korporasi naik kelas
Di tengah surutnya investor tradisional, muncul pemain yang semakin dominan. Modal ventura milik korporasi dan badan usaha milik negara telah berkembang dari sekadar peserta pasif menjadi penentu pasar. Mereka kini tidak hanya ikut menaruh dana, tetapi turut menentukan sektor mana yang tumbuh dan startup mana yang bertahan. Peran mereka sebagai penopang ekosistem terasa jauh lebih besar dari sebelumnya.
Dari GMV ke EBITDA
Perubahan pemodal ini turut mengubah aturan mainnya. Jika dulu startup dikejar-kejar untuk memperbesar nilai transaksi kotor atau GMV secepat mungkin, kini fokusnya bergeser ke arah EBITDA dan ekonomi unit yang sehat. Dengan kata lain, membakar uang demi pertumbuhan semu tidak lagi cukup. Yang dicari adalah perusahaan yang tangguh, efisien, dan mampu menghasilkan laba nyata secara berkelanjutan.
Ekosistem yang tetap raksasa
Meski pendanaan mengetat, fondasi Indonesia tetap besar dan menjanjikan. Negeri ini memiliki sekitar 32.000 startup aktif, 14 unicorn, dan total pendanaan yang pernah terkumpul menembus 71 miliar dolar. Jakarta tetap menjadi pusat utama, menempati peringkat ke-30 dunia dengan sekitar 1.217 startup yang terlacak. Potensi pasarnya masih menjadi salah satu yang paling menarik di Asia Tenggara.
Pandangan saya
Bagi saya, babak baru ini sebenarnya menyehatkan, meski terasa lebih keras bagi para pendiri. Disiplin terhadap laba dan keberlanjutan akan melahirkan perusahaan yang lebih kokoh dalam jangka panjang. Namun saya juga berharap dominasi pemodal besar tidak mematikan keberanian bereksperimen yang menjadi ruh sebuah startup. Keseimbangan antara ketahanan dan inovasi itulah pekerjaan rumah kita bersama.






