Sri WahyuniVIEW PROFILE →
Melawan Musim Dingin: Bagaimana Kredivo Meraih Pendanaan Jumbo dan Ekspansi ke Vietnam
Di tengah 'tech winter' yang membuat pendanaan startup Indonesia mengering, unicorn paylater Kredivo justru bergerak agresif. Dari suntikan dana ratusan juta dolar hingga akuisisi bank digital di Vietnam, inilah kisah bagaimana satu perusahaan fintech membuktikan bahwa peluang tetap ada.
Beberapa tahun terakhir menjadi masa yang penuh tantangan bagi ekosistem startup di Indonesia, sebuah periode yang sering disebut sebagai musim dingin teknologi atau tech winter. Di tengah keringnya aliran pendanaan yang membuat banyak perusahaan rintisan kesulitan, ada satu nama yang justru menunjukkan pergerakan yang sangat agresif dan penuh percaya diri, yaitu unicorn paylater kebanggaan tanah air, Kredivo.
Status unicorn yang mapan
Sebelum membahas gebrakan terbarunya, penting untuk mengingat kembali fondasi kokoh yang telah dibangun oleh Kredivo Holdings selama ini di industri finansial. Perusahaan ini secara resmi bergabung ke dalam klub unicorn yang bergengsi pada tanggal sebelas Oktober tahun 2022, tepat setelah berhasil menggalang dana pada putaran Seri D senilai seratus empat puluh juta dolar yang dipimpin oleh Mirae Asset.
Suntikan dana di tengah kekeringan
Namun, kisah yang paling menarik justru terjadi baru-baru ini, ketika sebagian besar perusahaan lain justru kesulitan mendapatkan modal segar dari para investor. Pada bulan Desember tahun 2025, Kredivo berhasil mengamankan pendanaan baru dengan nilai lebih dari seratus juta dolar Amerika Serikat, sebuah pencapaian luar biasa yang dipimpin langsung oleh raksasa perbankan asal Jepang, Mizuho Bank.

Yang membuat kesepakatan ini semakin menarik adalah adanya komponen sekunder yang cukup besar di dalamnya, sebuah detail yang jarang terjadi di masa sulit seperti ini. Komponen sekunder ini pada dasarnya memberikan kesempatan bagi para pemegang saham awal perusahaan untuk mencairkan sebagian investasi mereka, yang menunjukkan adanya kepercayaan dan likuiditas yang sehat di tengah pasar yang lesu.
Dukungan perbankan yang membesar
Kepercayaan dari lembaga keuangan besar terhadap Kredivo tidak berhenti hanya pada suntikan dana ekuitas dari Mizuho semata, tetapi terus berlanjut ke ranah pembiayaan. Pada bulan Januari tahun 2026, Bank DBS Indonesia mengambil langkah signifikan dengan meningkatkan fasilitas pembiayaan kepada Kredivo Group hingga mencapai angka fantastis, yaitu tiga triliun rupiah atau sekitar seratus tujuh puluh tujuh juta dolar.
Peningkatan pembiayaan yang sangat besar ini bukanlah tanpa alasan yang kuat di baliknya, melainkan sebuah respons langsung terhadap kondisi pasar. Langkah tersebut diambil secara khusus untuk memenuhi permintaan yang terus melonjak tinggi terhadap layanan beli sekarang bayar nanti, atau yang lebih dikenal luas dengan istilah buy now pay later, yang popularitasnya kian meroket di kalangan masyarakat Indonesia.
Ekspansi berani ke Vietnam
Berbekal amunisi finansial yang melimpah, Kredivo tidak hanya berpuas diri memperkuat posisinya di pasar domestik, tetapi juga melebarkan sayapnya ke kancah regional. Pada bulan Maret tahun 2026, perusahaan ini membuat gebrakan besar dengan mengakuisisi Timo, yang merupakan salah satu bank digital paling awal dan paling berpengaruh di negara tetangga, Vietnam.
Langkah akuisisi lintas negara ini merupakan sebuah pernyataan strategis yang sangat kuat mengenai ambisi jangka panjang Kredivo di kawasan Asia Tenggara. Dengan menguasai sebuah bank digital yang sudah mapan di Vietnam, Kredivo membuka pintu gerbang menuju pasar baru yang sangat besar dan potensial, sekaligus mendiversifikasi bisnisnya di luar batas-batas negara asalnya.
Fintech tetap jadi primadona
Kesuksesan Kredivo ini sejatinya mencerminkan sebuah tren yang lebih luas dalam lanskap investasi teknologi di Indonesia meskipun dalam kondisi yang menantang. Sektor teknologi finansial atau fintech tetap menjadi salah satu penerima pendanaan terbesar di negeri ini, membuktikan bahwa para investor masih melihat potensi keuntungan yang menjanjikan di sektor jasa keuangan digital.
Indonesia sendiri kini tercatat memiliki sebanyak tiga belas perusahaan berstatus unicorn, dan Kredivo Holdings dengan bangga menjadi salah satu anggota dari kelompok elite tersebut. Kehadiran nama-nama besar lain di sektor keuangan seperti DANA, Ajaib, Akulaku, OVO, dan Xendit turut memperkuat posisi fintech sebagai tulang punggung ekonomi digital nasional yang terus tumbuh.
Secercah harapan
Pada akhirnya, perjalanan Kredivo di tengah badai tech winter memberikan sebuah pelajaran berharga dan secercah harapan bagi seluruh ekosistem startup di tanah air. Kisahnya membuktikan bahwa meskipun iklim investasi secara umum sedang lesu dan penuh ketidakpastian, perusahaan dengan model bisnis yang kuat dan permintaan pasar yang nyata tetap mampu berkembang pesat.
Gebrakan demi gebrakan yang dilakukan oleh Kredivo, mulai dari pendanaan jumbo hingga ekspansi regional yang berani, menjadi bukti nyata bahwa musim dingin tidak berlaku sama bagi semua orang. Bagi para pemain yang tepat dengan strategi yang matang, tantangan zaman justru bisa diubah menjadi sebuah peluang emas untuk melompat lebih jauh meninggalkan para pesaingnya.






