Sri WahyuniVIEW PROFILE →
Di tengah musim dingin startup, bank digital Indonesia justru menuai laba
Saat pendanaan startup melambat, bank digital Indonesia justru mencetak laba dan tumbuh pesat. Saya mengupas capaian SeaBank, Bank Jago, dan Superbank, serta apa artinya bagi masa depan ekonomi digital tanah air.
Sebagai orang yang setiap hari mengikuti dunia startup dan ekonomi digital, saya harus jujur bahwa belakangan ini beritanya cenderung suram. Kita terus mendengar tentang musim dingin startup, pendanaan yang melambat, dan modal ventura yang semakin selektif. Namun di tengah suasana muram itu, ada satu sektor yang justru bersinar terang dan patut kita soroti.
Sektor yang saya maksud adalah bank digital, dan menurut saya kisah suksesnya adalah salah satu cerita paling menarik dari lanskap teknologi Indonesia saat ini. Ketika banyak perusahaan rintisan lain berjuang keras hanya untuk bertahan hidup, bank-bank digital tanah air justru membuktikan bahwa model bisnis mereka mampu menghasilkan keuntungan nyata.
Titik balik menuju laba
Yang membuat saya benar-benar terkesan adalah bahwa ini bukan sekadar cerita satu atau dua perusahaan yang beruntung. Sepanjang tahun 2025, sebagian besar dari sekitar lima belas bank digital yang beroperasi di Indonesia berhasil membukukan laba, sebuah tonggak penting yang menandai kematangan sektor ini setelah bertahun-tahun membakar uang.
Pencapaian ini terasa istimewa justru karena konteksnya yang penuh tekanan. Di saat industri teknologi secara umum sedang lesu dan investor menahan diri, kemampuan bank-bank ini untuk membalikkan keadaan dari rugi menjadi untung menunjukkan disiplin dan strategi yang matang, bukan sekadar pertumbuhan yang dibiayai bakar uang tanpa henti.
Tiga pemain yang mencuri perhatian

Mari kita lihat para pemain utamanya, dan pemimpin pasarnya jelas adalah SeaBank. Bank ini mencatat laba sebelum pajak sebesar 49 juta dolar AS pada 2025, dengan pendapatan bunga bersih mencapai 463 juta dolar AS, sebuah angka yang lebih dari tiga kali lipat pesaing terdekatnya. Keunggulan ini tak lepas dari integrasinya yang dalam dengan ekosistem Shopee.
Jika dirinci dalam rupiah, SeaBank membukukan laba bersih sebesar 678,4 miliar rupiah, naik 79 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total aset mencapai 44,4 triliun rupiah dan dana pihak ketiga sebesar 34,8 triliun rupiah. Angka-angka ini menegaskan posisinya sebagai raksasa di antara para bank digital di negeri ini.
Pemain kedua yang tumbuh paling pesat menurut saya adalah Bank Jago, yang salah satu pemegang saham utamanya adalah Gojek. Sepanjang tahun buku 2025, Jago meraih pendapatan 2.565,7 miliar rupiah atau naik 65 persen, dengan laba bersih melonjak 115 persen menjadi 276,2 miliar rupiah, margin bunga bersih 8,4 persen, dan 18,2 juta nasabah terverifikasi.
Cerita ketiga yang tak kalah menarik datang dari Superbank yang didukung oleh Grab. Bank ini melantai di bursa pada bulan Desember dan berhasil menghimpun dana sebesar 158 juta dolar AS. Yang lebih membanggakan, Superbank berhasil berbalik dari kerugian 366 miliar rupiah menjadi laba sebesar 99,7 miliar rupiah, menandai tahun pertamanya yang menguntungkan.
Melihat ketiga nama besar ini, saya menangkap sebuah pola yang jelas dan menarik untuk dicermati. Ketiganya, ditambah pemain seperti Bank Neo Commerce, sama-sama memanfaatkan berbagai platform yang berafiliasi dengan grup teknologi besar di kawasan untuk memperluas bisnis mereka dengan sangat cepat di seluruh Indonesia.
Apa artinya bagi ekonomi digital
Rahasia di balik pertumbuhan pesat ini, bagi saya, terletak pada ekosistem. Dengan menempel erat pada aplikasi belanja atau layanan transportasi yang sudah dipakai jutaan orang setiap hari, bank-bank ini mendapatkan akses ke basis pengguna raksasa tanpa harus mengeluarkan biaya pemasaran yang membengkak seperti bank konvensional.
Menurut saya, tren ini memberi pesan yang jauh lebih besar bagi ekonomi digital Indonesia. Ia membuktikan bahwa profitabilitas dan pertumbuhan bisa berjalan beriringan, dan bahwa fintech kita telah memasuki fase yang lebih dewasa serta berkelanjutan, tidak lagi semata mengejar valuasi tinggi dengan membakar modal tanpa perhitungan yang jelas.
Bagi saya, kebangkitan bank digital ini adalah setitik cahaya terang yang sangat dibutuhkan di tengah lesunya iklim startup. Ini menunjukkan bahwa inovasi keuangan Indonesia tetap tangguh dan mampu beradaptasi. Saya tentu akan terus mengikuti perkembangan sektor menjanjikan ini dan melaporkannya untuk Anda semua di kesempatan berikutnya.






