avalw news
HOME/Sri Wahyuni/business
Sri WahyuniSri WahyuniVIEW PROFILE →

Grab dan GoTo: di balik rumor akuisisi miliaran dolar yang mengguncang ekonomi digital Indonesia

business2026-09-01 · 3 min read · 0 reads

Wacana akuisisi GoTo oleh Grab kembali menghangat. Menyatukan dua raksasa super app ini berpotensi mengubah wajah ekonomi digital Indonesia, namun terganjal isu monopoli, saham Telkomsel, dan penolakan para pengemudi.

Dua nama besar di dunia teknologi Asia Tenggara kembali menjadi pusat perhatian. Kabar mengenai kemungkinan bersatunya Grab dan GoTo terus bergulir, dan jika benar terwujud, langkah itu berpotensi menjadi salah satu konsolidasi terbesar dalam sejarah ekonomi digital kawasan ini.

Bagi Indonesia, isu ini jauh lebih dari sekadar berita bisnis biasa. GoTo telah lama menjadi tulang punggung kehidupan digital sehari-hari jutaan warga, sehingga setiap kabar mengenai masa depannya selalu menyita perhatian publik, pelaku usaha, sekaligus para pembuat kebijakan di Tanah Air.

Raksasa bernama GoTo

Untuk memahami besarnya taruhan ini, kita perlu menengok ke belakang sejenak. GoTo lahir pada tahun 2021 dari penggabungan dua startup raksasa, yakni Gojek dan Tokopedia, dalam sebuah kesepakatan yang saat itu disebut sebagai merger terbesar dalam sejarah Indonesia dengan nilai sekitar 18 miliar dolar AS.

Kekuatan GoTo terletak pada ekosistemnya yang saling terhubung erat. Perusahaan ini menyatukan layanan transportasi daring, pesan-antar makanan, layanan keuangan digital, hingga perdagangan elektronik melalui Tokopedia, dan menurut laporan pada awal pembentukannya sempat menyumbang lebih dari dua persen ekonomi Indonesia.

Grab dari Singapura

Di sisi lain berdiri Grab, perusahaan teknologi yang berbasis di Singapura. Sama seperti GoTo, Grab bergerak di bidang transportasi daring dan pesan-antar, tetapi jangkauannya membentang ke seluruh Asia Tenggara, sebuah pasar yang dihuni lebih dari 650 juta orang.

Selama bertahun-tahun, keduanya bersaing ketat dengan Sea Group dalam perlombaan menjadi aplikasi serba bisa atau super app di kawasan. Persaingan sengit inilah yang membuat wacana penyatuan dua rival besar ini terdengar begitu dramatis sekaligus penuh konsekuensi bagi banyak pihak.

Rumor akuisisi yang tak kunjung usai

Wacana Grab mengakuisisi GoTo sebenarnya bukanlah hal yang baru. Menurut berbagai laporan media, rumor kesepakatan bernilai miliaran dolar AS ini telah muncul dan tenggelam berulang kali selama bertahun-tahun, menjadikannya salah satu spekulasi yang paling bertahan lama di industri teknologi.

Meski begitu, hingga kini belum ada kepastian yang bersifat resmi. Pihak GoTo dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa mereka tidak mengomentari rumor yang beredar di pasar, dan menyatakan belum ada keputusan maupun kesepakatan apa pun yang telah dibuat terkait wacana penggabungan tersebut.

Tembok penghalang

Jalan menuju kesepakatan ini ternyata penuh dengan rintangan. Menurut laporan, negosiasi sempat tersendat karena persoalan kepemilikan saham, termasuk sekitar dua persen saham yang dipegang Telkomsel, yang dikabarkan enggan melepasnya pada harga yang jauh di bawah nilai investasi awalnya.

Hambatan lain datang dari sisi regulasi dan sosial. Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU telah mengingatkan potensi risiko monopoli, sementara pemerintah menimbang dampaknya terhadap persaingan dan kesejahteraan pekerja, di tengah gelombang unjuk rasa para pengemudi yang mengkhawatirkan masa depan mereka.

Taruhan bagi ekonomi digital

Kabar seputar kemungkinan akuisisi turut memengaruhi pergerakan harga saham dan menjadi sorotan para investor di pasar modal.
Kabar seputar kemungkinan akuisisi turut memengaruhi pergerakan harga saham dan menjadi sorotan para investor di pasar modal.

Di balik semua tarik ulur ini tersimpan taruhan yang sangat besar. Ekonomi digital Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, dan menurut laporan e-Conomy SEA nilainya diproyeksikan tumbuh hingga sekitar 360 miliar dolar AS pada tahun 2030 mendatang.

Sebuah penggabungan tentu akan menciptakan pemain yang sangat dominan di pasar. Di satu sisi, hal itu bisa menghadirkan efisiensi dan kekuatan modal yang lebih besar, namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran nyata soal berkurangnya persaingan yang selama ini menguntungkan konsumen dan mitra pengemudi.

Menanti babak selanjutnya

Untuk saat ini, publik hanya bisa menanti bagaimana drama korporasi ini akan berakhir nantinya. Yang pasti, setiap perkembangannya akan diawasi dengan ketat oleh regulator, investor, serta jutaan pengguna dan mitra yang menggantungkan penghidupan mereka pada kedua platform tersebut.

Apa pun hasil akhirnya nanti, kisah Grab dan GoTo telah menjadi cermin dari kedewasaan ekosistem startup Indonesia. Era bakar uang perlahan mulai berakhir, dan kini fokusnya bergeser pada konsolidasi, keberlanjutan, serta pencarian jalan menuju keuntungan yang benar-benar nyata.

Sri Wahyuni
Stay updated
Sri Wahyuni
Subscribe to get an email whenever Sri Wahyuni publishes a new story. No spam, unsubscribe anytime.
Sri Wahyuni
WRITTEN BY THE AUTHOR
Sri Wahyuni
2026-09-01 · 3 min read · 0 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
MORE FROM Sri Wahyuni
Report this articlesupport@avalw.com