avalw news
HOME/Sri Wahyuni/business
Sri WahyuniSri WahyuniVIEW PROFILE →

GoTo cetak laba dua kuartal beruntun: EBITDA tembus Rp1 triliun dan fintech kini jadi mesin utama

business2026-08-18 · 3 min read · 387 reads

Raksasa teknologi Indonesia PT GoTo Gojek Tokopedia membukukan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal kedua 2026, dengan EBITDA yang disesuaikan menembus Rp1 triliun untuk pertama kalinya dan segmen fintech yang melampaui layanan on-demand.

Raksasa teknologi Indonesia melangkah lebih jauh dari sekadar bertahan. Pada laporan kuartal kedua 2026 yang dirilis 29 Juli, PT GoTo Gojek Tokopedia membukukan laba bersih grup sebesar Rp252 miliar, menandai kuartal kedua berturut-turut perusahaan mencatatkan keuntungan. Angka ini naik 47 persen dibanding laba Rp171 miliar pada kuartal sebelumnya.

Tonggak paling menonjol datang dari sisi profitabilitas operasional. EBITDA yang disesuaikan menembus Rp1,01 triliun, untuk pertama kalinya melampaui ambang Rp1 triliun. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibanding Rp427 miliar pada kuartal kedua 2025, menegaskan bahwa strategi efisiensi biaya perusahaan mulai berbuah nyata.

Pertumbuhan juga terlihat jelas di lini atas. Pendapatan bersih naik 31 persen menjadi Rp5,7 triliun, sementara jumlah pengguna yang bertransaksi dalam setahun mencapai 71 juta, tumbuh 19 persen secara tahunan. Nilai transaksi bruto inti bahkan melonjak 83 persen menjadi Rp164,3 triliun, menunjukkan aktivitas yang tetap kuat.

Fintech menyalip layanan on-demand

Perubahan paling strategis terjadi di dalam struktur bisnis GoTo. Segmen fintech mencatatkan lonjakan EBITDA yang disesuaikan sebesar 447 persen secara tahunan, menjadi Rp481 miliar dari hanya Rp88 miliar pada kuartal kedua 2025. Pertumbuhan sederas ini mengubah peta kontribusi laba di dalam grup secara mendasar.

Untuk pertama kalinya, fintech melampaui layanan on-demand seperti transportasi dan pesan-antar sebagai penyumbang laba utama. Pergeseran ini penting, karena menunjukkan bahwa GoTo tidak lagi hanya bergantung pada bisnis ride-hailing yang selama ini menjadi wajahnya, melainkan pada layanan keuangan digital.

Tekanan regulasi pada GoRide

Layanan mobilitas roda dua tetap menjadi salah satu lini inti GoTo, meski kini menghadapi batas komisi baru dari pemerintah.
Layanan mobilitas roda dua tetap menjadi salah satu lini inti GoTo, meski kini menghadapi batas komisi baru dari pemerintah.

Namun tidak semua kabar bersifat positif. Mulai 1 Juli 2026, pemerintah Indonesia menerapkan batas komisi sebesar 8 persen untuk layanan mobilitas roda dua, yakni GoRide. Layanan ini menyumbang sekitar 7 persen dari total pendapatan bersih grup, sehingga aturan baru tersebut berdampak langsung pada salah satu lini inti perusahaan.

Dampak dari kebijakan itu diperkirakan cukup terasa. GoTo memperkirakan pengaruh terhadap EBITDA yang disesuaikan dari layanan on-demand pada paruh kedua 2026 mencapai sekitar Rp300 miliar. Angka ini menunjukkan bagaimana perubahan regulasi bisa langsung menekan margin di segmen yang sudah relatif matang.

Proyeksi setahun penuh yang bergeser

Menariknya, GoTo tetap mempertahankan panduan EBITDA yang disesuaikan untuk grup pada tahun penuh 2026 di kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun. Yang berubah adalah komposisinya. Panduan untuk layanan on-demand diturunkan dari Rp1,7 hingga Rp1,8 triliun menjadi Rp1,4 hingga Rp1,5 triliun akibat aturan komisi baru.

Sebaliknya, panduan untuk fintech dinaikkan dengan besaran yang setara, dari Rp1,4 hingga Rp1,5 triliun menjadi Rp1,7 hingga Rp1,8 triliun. Pergeseran ini secara resmi menempatkan layanan keuangan digital sebagai motor pertumbuhan laba utama perusahaan untuk sisa tahun berjalan.

Kinerja GoTo hadir di tengah suasana yang lebih menantang bagi startup Indonesia secara umum. Setelah era uang mudah berakhir, para investor kini menuntut bukti pendapatan, tata kelola yang bersih, dan efisiensi biaya. Dalam konteks ini, kembalinya GoTo ke jalur laba menjadi sinyal penting bagi seluruh ekosistem teknologi.

Bagi banyak pengamat, capaian ini menandai pematangan model bisnis teknologi di Indonesia. Perusahaan yang dulunya membakar uang demi pertumbuhan kini dinilai dari kemampuannya menghasilkan keuntungan berkelanjutan. GoTo, sebagai perusahaan teknologi terbesar di negeri ini, menjadi tolok ukur bagi para pemain lain.

Tantangan ke depan tetap ada, mulai dari tekanan regulasi hingga persaingan di sektor fintech yang kian ketat. Namun dengan dua kuartal laba beruntun dan EBITDA yang menembus Rp1 triliun, GoTo memasuki paruh kedua 2026 dengan posisi yang jauh lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Sri Wahyuni
WRITTEN BY THE AUTHOR
Sri Wahyuni
2026-08-18 · 3 min read · 387 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
MORE FROM Sri Wahyuni
Report this articlesupport@avalw.com